Kita Sebagai Murid


Pengantar tulisan mereka yang memperoleh dan yang mengamalkan lailatul al-qadr ini di maksud agar warga jamaah Lil-Muqorrobin secara benar memahami kebenaran ajaran Wasithah. Supaya di terapkan ajaran Wasithah itu dengan benar dan iklas. Supaya tidak terjerumus kepada perbuatan fasik karena masih sangat rentan mudah diperdayaoleh nafsu dan watak akunya.

Sumpah dan janji di hadapan Wasithah adalah semangatnya rasa jiwa hamba yang mencintai Tuhanya. Dan yang memperoleh izin (dari Allah)memahami maksud menerima lailatul al-qadar lalu dengan sungguh sungguh mengamalkan,adalah hamba yang di sucikan Allah.


Karna itu di jelaskan:
1. Beruntung dan berbahagialah orang yang mensucikan dirinya dari kotoran-kotoran penyakit hati. Dan celakalah orang yang measa suci(lau sumuci) karena di perbudak oleh watak nafsu., tergelincir ke lembah gelapnya kenistaan.
2. Belajar dan terus belajar bagaimana mengetrapkan Dawuh Guru(ajaran Wasithah) adalah sebuah keharusan bagi mereka yang benar-benar sadar sebagai murid.
3. Hindari cipta angan-angan yang menjadikan hati nurani,roh,dan rasa terbelengkai dalam kegelapan.
4. Dengan sesama murid(menyiapkan diri menjadi orang yang berkehendak bertemu dengan Tuhan), Bersatu padulah menjadi "Bala Sirrullah"

Siapa sajatidak berusaha dengan sebaik baiknya memenuhi semua ini, di mungkinkan menerimavonis: "sukakulapepisah ing ndalemnurakane". Sama artinya dengan hakekat halal bihalalyang di maksudkan maknanya fitrah dengan fitrah, bersih dengan bersih, kosong (tidak ada sama sekali res-res) dengan kosong, hanya menjadi kemunafikan.




Semoga Kita selalu memperoleh beberan, sawab, dan berkah pangestunya Wasithah. Amin.......


Selengkapnya...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Meniup Ruh-Mauludan


Peristiwa lahir dan matinya seseorang adalah peristiwa yang lumrah. Alami. Semua manusia mengalami. Menjadi berbeda dan istimewa (perlakuannya) bila yang dilahir-matikan adalah insan pilihan-Nya.
Demikian halnya ketika (Nabi) Muhammad kecil lahir dari rahim Siti Aminah. Peristiwa kelahirannya biasa-biasa saja. Tidak menunjukkan sesuatu yang istimewa. Juga tidak ada yang memperingati dan merayakan semeriah sekarang.
Tapi, 1438 tahun pasca kelahiran beliau (sekarang), peristiwa tersebut diperingati secara meriah oleh jutaan umat Islam di dunia. Ragam peringatannya pun tak terbilang banyaknya. Di Indonesia, ia diperingati mulai dari tingkat RT, desa, kecamatan, bahkan sampai Istana Negara.
Tujuan pokoknya sama. Mengenang kembali jasa-jasa beliau, cita-citanya, perjuangannya, pengorbanannya, jerih payahnya, tujuan hidupnya, dan apalagi ajaran mulianya. Dengan satu-satunya niatan : agar mendapat syafaat beliau baik di kehidupan dunia sekarang, terlebih di akherat kelak.
Sayangnya, diakui atau tidak, peringatan mulia tersebut ada yang terlupa. “Ruh” mauludan belum mengakar disana. Sehingga, perayaannya terkesan hanya sebagai ritual yang miskin makna. Terlepas dari hakekat dan pesan intinya.

Jauh tak menyentuh permasalahan apakah Tuhan menghendaki peristiwa lahirnya sang utusan tersebut—baik pada Nabi SAW maupun para rasul yang lain—dirayakan umat manusia. Lalu, apakah dibenarkan/disalahkan bila memperingatinya?
Saya yakin Tuhan “tidak” menghendaki adanya perayaan tersebut. Nyatanya, Nabi SAW sendiri tidak mengajarkan untuk memperingati lahirnya para rasul sebelum beliau. Misalnya saja merayakan lahirnya Nabi Isa--yang oleh kaum Kristiani diperingati sebagai hari Natal.
Beliau sendiri nyatanya juga tidak mewasiatkan agar hari kelahiran beliau (12 Rabiul Awal, bertepatan Senin 9 Maret 2009) dirayakan umat Islam. Namun, bila sekarang kejadiannya sedemikian meriah, hemat saya tidak terlalu salah. Asalkan ruhnya mauludan mengada pada tempatnya.
***
Setiap perayaan hari besar dan bersejarah, yang seyogianya ditafakuri secara mendalam, kemudian dipancang kuat dalam hati yang paling dalam adalah menemukan hakekat makna dibalik peristiwanya. Kemudian mencari langkah-langkah konstruktif yang perlu dibangun.
Dalam peristiwa mauludan, pemikiran utama yang hendaknya dilakukan secara mendalam adalah menemukan jawaban mengapa Tuhan “perlu” melahirkan Muhammad SAW menjadi penerus para rasul sebelumnya. Bukankah (mestinya) sudah cukup dengan diturunkannya puluhan rasul terdahulu—lengkap dengan kitab dan ajarannya?
Mencermati masalah yang cukup lembut dan njlimet ini, dalam Al Quran ditemukan sedikitnya empat alasan yang membahas mengapa Tuhan perlu menurunkan rasul-Nya--yang realisasi penurunannya dilakukan secara berkesinambungan.
Pertama, untuk membimbing manusia agar tidak terjebak dalam perbuatan merusak dan menumpahkan darah. Sebab, sesuai firman-Nya, manusia itu “pekerjaannya membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah” (QS. 2:30).
Hakekat membuat kerusakan adalah merusak hukum kehidupan yang telah Dia gariskan. Kehidupan dunia adalah ujian untuk bisa pulang kembali kepada-Nya. Hukum ini nyatanya dirusak dengan senang, bangga, susah, kecewa, dst-dsb, bahkan kelewat cinta dunia.
Membuat kerusakan yang lain—disamping membuat kerusakan yang nyata baik di darat, laut, udara, bahkan luar angkasa—adalah merusak kesanggupannya sendiri. Merusak kesanggupan memikul amanah yang telah disanggupi ketika masih di alam arwah. Terbukti dengan tidak butuh mengenali Wujud/Dzat-Nya hingga hakkul-yakin. Tidak mau mengakui, mencari, dan apalagi “berguru” pada rasul-Nya.
Kedua, menjadikan rasul sebagai “juru kunci” yang dapat mengenalkan kembali pada Dzat/Wujud-Nya--yang selanjutnya disembah dan dijadikan tujuan kembali.
”Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu (manusia dan anak keturunannya) tentang Al-Ghaib (Dzat/Wujud-Nya), akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya dari (dengan cara melalui) rasul-Nya...” (QS. 3:179).
Jelasnya, karena Tuhan tidak akan “ngejawantah” (menampakkan Diri) di muka bumi (sebagaimana kisah Nabi Musa meyakini Wujud Tuhan), maka “merasa perlu” mengangkat wakil/khalifah/rasul untuk menunjukkan Jati Diri-Nya.
Ketiga, karena “mereka (manusia umumnya) tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya mengenal" (Q.S. 22:74). Padahal, ketika masih di alam arwah (alam fitrah) dulu, arwah semua manusia telah mengenali Dzat-Nya dengan seyakin-yakinnya. Terbukti dengan “gagah perkasa” berani menjawab persaksian dari-Nya: “Alastu Birabbikum”, bukankah AKU ini Tuhanmu? dengan jawaban “Qaalu balaa syahidna”, benar Engkau Tuhan kami, kami menjadi saksi (QS. 7:72). Oleh karenanya, penurunan rasul-Nya (Muhammad SAW) adalah wujud Maha Belas Kasihnya, yang akan mengenalkan kembali jati diri manusianya dengan Jati Diri Tuhannya.
keempat, mengangkat rasul sebagai “pilot proyek“ (suri teladan/contoh nyata) dalam rangka berjihad untuk bertemu Tuhan kembali. “Pada diri rasul (semua para rasul-Nya) terdapat suri teladan yang baik, bagi yang mengharapkan rahmat Allah dan hari kiyamat” (QS. 33:21, QS. 60:6). Disamping “duta khusus” penyambung “lidah”-Nya.
Implikasinya, “hanya” pada rasul-lah terdapat suri teladan yang baik. Selain rasul, tidak ada jaminan dari-Nya untuk diteladani. Namun, pada mereka semua pasti ada butir-butir “saripati” kebaikan dan kebenaran yang dapat diambil. Tergantung seberapa besar kemampuan menelaah, mencermati, yang kemudian memulungnya.
Walhasil, hikmah yang dapat diambil dari “muludan” adalah bahwa Tuhan akan selalu meng-“update” (memperbarui) rasul-Nya, bila rasul-Nya tiada (meninggal, dibunuh, ataupun murca) dengan rasul berikutnya. Hal demikian menurut Tuhan adalah suatu perkara yang sangat-sangat mudah. Namun menurut manusia adalah perkara yang sangat berat. Sebagaimana kisah penolakan para rasul oleh umat sebelumnya.
Kemudian pemikiran konstruktifnya, inspeksi diri sejauh mana kita mengapresiasi pertanyaan besar-Nya: "Bagaimana kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu (kamu dalam arti nenek moyang, kita semua, anak cucu, semua spesies manusia sampai kiamat). Barang siapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus” (QS. 3:101).
Seberapa besar pula kita telah meneladani sang rasul mulai dari perbuatannya, perkataannya, ilmunya (pemahaman dan keyakinan perihal ketauhidan), amalnya, lahirnya, dan batinnya? Terlebih wening-nya hati nurani roh dan rasa dalam mentauhidkan Dzat Sifat dan Af’al-Nya? Wallau a’lam, wa ana makanul khatha’ wa nisyan.

Oleh: Roni Djamaloeddin


Penulis:
Praktisi Ilmu Tauhid Sejati. Guru Matematika dan Ilmu Dedaktik SMA POMOSDA Tanjunganom Nganjuk.


Selengkapnya...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

POMOSDA, Pondok Sufi & Gerakan Jamaah Lil-Muqorobien


Tujuan dan cita-cita Pondok Modern Sumber Daya At-Taqwa (POMOSDA): berusaha dengan sungguh-sungguh dengan benar dan ikhlas agar dapat menghasilkan sebanyak-banyak orang yang shalih dan shalihah yang luas, tinggi dan mendalam kepahamannya tentang agama Islam, yang cakap dan berkeahlian serta berakhlak mulia, rajin beramal dan berbakti kepada masyarakat berdasarkan taqwa (takut dan tunduk kepada Allah) sehingga menjadi warga masyarakat yang berilmu, terpelajar, beramal dan bertaqwa.

Agar dapat mencapai tujuan dan cita-cita tersebut pelaksanaan pendidikan, pembelajaran dan pelatihan di dalam POMOSDA menggunakan 2 sistem. Yakni sistem sekolah/madrasah dan sistem pondok yang kedua-duanya harus saling mengisi dan melengkapi. Sistem sekolah/madrasah bertujuan untuk mempercepat langkah dan jalan penguasaan pengajaran.

Sistem pondok dimana kyai, ustadz dan ustadzahnya dengan santri dan muridnya, siang dan malam dapat bergaul dengan rapat sehingga merupakan satu keluarga yang perasaan ruhaninya diliputi oleh mahabbah (rasa kecintaan dan kasih sayang) yang akan dapat menimbulkan rasa kekeluargaan yang suci.
Dalam kedua-dua sistem tersebut, sistem pondok yang juga dijalankan di dalam sistem sekolah/madrasah akan memberikan pengaruh dan bekas yang mendalam bagaimana menjalani/melatih diri hidup sederhana, nyegara dan berlapang dada menerima kenyataan memimpin diri sendiri, yakni mengurus, menolong dan memerintah diri sendiri dengan mengindahkan tuntunan pimpinan, mengutamakan beramal untuk kepentingan bersama dengan tidak melupakan hak diri, hemat, hidup praktis, yakni tidak merasa sukar dimana saja, tidak mementingkan diri sendiri tetapi juga jangan tidak mengetahui hak diri.
Untuk itu juga dipandu oleh beberapa qaidah.
Pertama memberikan bimbingan untuk dapat mencapai jiwa hurriyyah tammah (jiwa yang merdeka sejati). Menggantungkan diri kepada lain orang dijauhi benar-benar. Ingat bahwa Yadu al ulya min yadi as sufla. Artinya tangan yang di atas itu lebih mulia dari pada tangan yang dibawah. Tegasnya memberi itu lebih mulia daripada meminta.

Karena itu harus menjalankan zelfbedruipings sistem (qaidah berikutnya). Agar dapat terlepas dari ketergantungan kepada lain orang.
Di pondok ini ada 12 unit ketrampilan yang masing-masing dipandu oleh 12 kelompok kerja.
Antara lain memproduksi susu kedelai “marasake” yang mesinnya dibuat sendiri.
Bidang pertanian misalnya, warga jamaah pondok dengan penelitiannya menemukan cara pemupukan (nutrisi) bagi tanaman padi yang setiap bulan bisa panen. Demikian halnya penelitian sumber energi, penelitian gelombang laut dan angin supaya menjadi sumber listrik, dll.

Qaidah berikutnya mengingatkan bahwa bekerja dalam lapangan pendidikan yang suci, paham buruh harus dilempar jauh-jauh.
Dimaksud paham buruh yang harus dilempar jauh-jauh adalah keberhasilan yang menjadikan seseorang lalu diperbudak nafsu dan dunia, agar karunia Allah terlimpah sebanyak-banyaknya, dan agar kita semua lambat laun dapat mencapai pengabdian kepada Allah dengan pengabdian yang sejati murni dan sempurna.
Kerjakanlah hal itu, kebahagiaan dunia dan akherat akan terjamin sepenuhnya.

Karena itu maka pimpinan dan juga semua pendidik yang ditakuti harus dijauhi, sedapat mungkin jangan dijalankan. Sedang pimpinan atau dan juga para pendidik yang dicintai dibiasakan. Ingatlah bahwa pengaruh pendidikan berdasarkan mahabbah itu lebih besar dan lebih berpengaruh serta mendalam daripada pendidikan yang pimpinannya ditakuti. Oleh karena itu maka “rasa kekeluargaan harus diperkokoh dan dipererat”.

Ada qaidah yang kemudian diperdalam di Ponsok Sufi yang melahirkan terbentuknya gerakan Jamaah lil-Muqorrobin. Yakni gerakan tapa ana ing sak tengahing praja dan nyingkrih ana ing sak tengahing masyarakat.

Bunyi qaidah tersebut adalah dengan sabar dan tawakkal kita harus dapat mencapai tingkat dan martabat rasa.
Maksudnya adalah bagaimana kerja keras kita untuk mengelola garapan dunia yang dicipta Allah tidak batal dan tidak sia-sia untuk kesejahteraan bersama dan kemakmuran bersama diniatkan untuk berbakti (kepada Allah) dan berkorban bagi mendidik dan melatih diri sendiri dan sesamanya harus kita lakukan dengan ikhlas yang seikhlas-ikhlasnya karena Allah, dijalan Allah, dengan Allah, dari Allah, untuk Allah sehingga saking ikhlasnya sampai tidak merasa.
Sebab rasa hatinya disibukkan untuk senantiasa dapat merasakan indahnya mengingat-ingat dan menghayati Diri-Nya Dzatullah Yang Al-Ghayb dan Mutlak Wujud-Nya yang sangat dekat sekali serta senantiasa menyertai dan meliputi hamba-Nya sejagad raya.
Kelahiran dan kebatinan orang yang demikian dimana saja dan kapan saja pasti berfaedah bagi lain orang (masyarakat).


Selengkapnya...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Sayangi Flash Disk Anda


Pada masa sekarang ini, dapat dipastikan hampir seluruh orang yang bekerja di kantor maupun para pelajar memiliki perangkat untuk menyimpan data. Dengan harga yang juga sudah semakin murah dan memiliki bentuk yang semakin kecil, flash disk telah menjadi pilihan utama untuk digunakan. Sebagian besar orang, mengaku tidak tahu bagimana merawat flash disk mereka. Bahkan, mereka cenderung menggunakan flash disk dengan asal-asalan. Dalam kesempatan ini, CHIP akan memberikan beberapa tips untuk merawat flash disk Anda.

-Jangan taruh flash disk Anda di dekat benda yang memiliki medan magnet kuat. Hal tersebut dapat langsung merusak komponen flash disk Anda.

-Jaga USB flash disk jangan sampai tercelup air. Walau pun ada beberapa flash disk yang diciptakan waterproof, tetap saja kemungkinan komponen yang ada dapat terkena air. Apabila komponen flash disk Anda terkena air, tentu saja dapat membuat flash disk Anda cepat rusak. Oleh karena itu, hindari air sebisa mungkin.

-Jangan lupa untuk terus scan virus pada flash disk Anda. Usahakan untuk scan virus dengan antivirus yang paling update. Apabila flash disk Anda terkena virus, terkadang data yang ada di dalam bisa tidak bisa terbaca. Format merupakan jalan tercepat untuk menyembuhkan flash disk Anda. Tentu data-data yang ada di dalam akan hilang. Anda tidak mau data penting Anda hilang hanya karena virus, bukan?

-Lakukan proses eject atau ‘Safely Remove Hardware’ sebelum mencabut USB flash disk dari port USB. Sama seperti hard disk, flash disk juga akan terus bekerja selama dicolok pada lubang USB. Oleh karena itu, flash disk perlu dihentikan terlebih dahulu sebelum dicabut.

-Jangan letakkan di tempat yang panas. Anda tidak mau komponen flash disk tersebut meleleh, bukan?

-Hindari benturan keras.

-Tutuplah bagian socket USB flash disk jika sedang tidak digunakan. Karena, socket yang kotor dapat mengakibatkan proses baca tulis sering gagal.
Selengkapnya...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS