Yang pasti ditambah dan terus ditambah indahnya merasakan iman yang ma’rifatun wa tashdiqun. Ditambah nikmatnya bersungguh-sungguh dalam ibadahnya kepada Allah dengan benar dan ikhlas. Ditambah senang dan relanya mengorbankan diri agar hidupnya diridhai (dicintai) oleh Allah. Ditambah pula keyakinan dan kesadaran memahami maksud perintah Allah bagi para kekasih-Nya: utruk nafsaka wa Ana milkun, yang maksudnya tinggalkanlah (untuk belajar dan terus belajar tidak mengingat-ingat dan merasakan) kepentingan dan kebutuhan jiwaragamu (sebab sebenarnya) kebutuhan jiwaragamu itu adalah tanggungan-Ku. Dengan begitu maka pikiran padang, hati terang dengan rasa istiqomah merasakan indahnya mengingat-ingat Diri-Nya Ilaahi (Isi-Nya Huw), semeleh, lapang dada, disertai rezki yang memberkati bagi pancatan yang kokoh pulang kepada Allah, pasti ditambah dan terus ditambah oleh Allah.
Hal di atas terjadi dan dibentuk oleh fadhal dan rahmat Allah karena dijadikan paham sekali terhadap firman Allah: ”Wa man yudlil falan tajida lahu waliyyan mursyida” (QS. Al Kahfi [18]: 17). Yang arti dan maksudnya adalah bagi barang siapa yang disesatkan oleh Allah maka kamu sama sekali tidak akan dapat mempertemukan baginya waliyyan mursyida.
Waliyyan mursyida adalah Guru mursyid (Wasithah) yang ditugasi meneruskan tugas dan kewajiban Junjungan Nabi Muhammad SAW sebagai rasulullah. Yang dalam sebuah rantai silsilah gilir gumantinya (dengan hak dan sah) hanya satu hingga kini sampai kiyamat nanti.
Oleh karena dijadikan paham dan mengerti oleh Allah, maka apa yang harus dikerjakan ketika sujud syukur setiap bakda shalat, dihayati hingga mendarah mendaging. Sehingga akan terus menerus bangkit dengan tegak niatnya berhijrah kepada Allah dan rasul-Nya (meniatkan hidup hanya untuk nderek Guru). Belajar dan terus belajarnya tidak akan pernah jemu hingga memperoleh keyakinan yang matang bahwa seberat-beratnya menjalankan dawuh guru masih lebih berat apabila tidak menjalankan. Berdoanya kepada Allah benar-benar sebagai perwujudan ngumawula kepada-Nya, deple-deple kepada-Nya, nelangsa kepada-Nya, karena sangat kuatnya butuh kepada-Nya. Dan inilah yang dimaksud oleh Allah dengan firman-Nya: ”man yahdillaahu fahuwa al muhtadi” (QS. Al Kahfi [18]: 17). Bahwa barangsiapa yang diberi hidayah oleh Allah (digelemake nyuwun pituduh ilmunya guru yang saleh [= ilmu Syathariyah = ilmu Nubuwah secara benar, hak dan sah] dan digelemake menjalankan perintahnya), maka dialah yang mendapat hidayah.
Kemudian yang pasti di azab dengan keras oleh Allah adalah mereka yang tidak percaya terhadap penjelasan dimuka. Sebab semua alat (instrumen) yang diberikan Allah seperti jasadnya, akal pikirannya, hatinurani roh dan rasanya habis diperbudak oleh kepentingan nafsu dan watak akunya membentuk watak dan pandangan hidup yang ngalap cukup penemune dewe, nggugu benere dewe, ngendel-ngendelake wicarane dewe. Hidupnya hanya memburu uceng kehilangan deleg. Ibadahnya karena pamrih baik bangsa dunia maupun bangsa akherat. Sama sekali tidak akan pernah disadari bahwa hidup seperti itu sama saja dengan menawar-nawarkan dirinya supaya disesatkan oleh syaitan. Dimurkai dan disesatkan oleh Allah. Sama sekali tidak mempan dengan peringatan keras Allah: ”faman adzlamu minman iftara ’ala Allahi kaziba” (QS. Al Kahfi [18]: 15). Bahwa tidak ada yang lebih zalim dibandingkan dengan orang-orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah.
Pendustaannya terhadap Ada dan Wujud Diri-Nya Dzatullah (= Al Ghayb) yang dekat sekali di dalam rasa hati. Senantiasa meliputi dan menyertai hamba-Nya. Tempat asal fitrah manusia dan tempat kembalinya, serta pendustaannya terhadap yang hak dan sah menunjuki (sebab Diri-Nya Ilaahi Yang Al-Ghayb lalu menugasi hamba yang mewakili), semua didustakan dengan cara mengada-ada dengan pendapatnya sendiri, mengada-ada dengan benarnya sendiri, mengada-ada dengan bicaranya sendiri yang dikemas dengan penalaran dan berbagai argumentasi hingga mempesona banyak orang yang semuanya disesatkan.








0 Response to "MERASAKAN INDAHNYA BERTEMU DENGAN ALLAH"
Posting Komentar